Kiat mempertahankan Taubat Nasuha yang bisa kamu lakukan sekarang juga dan Keutamaannya

taubat nasuha

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan. bahkan gangguan dalam melaksanakan ibadah yang lebih prioritaspun masih memiliki berkahnya.

Misalnya

Melewatkan sholat tarawih berjamaah karna lebih mengutamakan tradisi buka bersama untuk bersilaturahmi yang sampai meninggalkan fadiilah/keutamaan tarawih berjamaah

Dibulan ini, doa di ijabah, lingkungan relatif lebih terjaga dari maksiat
sekaligus menjadi momentum yang tepat untuk kita bermuhasabah serta bertaubat.

terlebih periode 10 malam terakhir ini.

Masalahnya siapkah kita menghadapi bulan bulan selepas ‘pesantren ramadan’ ?

Bagaimana dengan yang tergolong ahli zina? haruskah di rajam, seperti apa cara bertaubatnya

Apa fadilah atau keuntungan mereka yang bertaubat? dan apa dalilnya

 

Keutamaan dan Tantangan Orang yang bertaubat

 

Pada hakikatnya taubat itulah isi ajaran Islam dan fase-fase persinggahan iman. Manusia dibukaan banyak kesempatan atau jalan untuk bertaubat, hanya saja manusia mau mengambil jalan yang lurus atau tetap menikmati jalan yang tersesat bahkan dimurkai Allah.

Mereka lah orang yang binasa, orang yang menelantarkan dan mencampakkan taubat di belakang punggungnya.

Beberapa di antara keutamaan taubat ialah:

Pertama, Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah ‘azza wa jalla.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

Kedua. Taubat merupakan sebab keberuntungan dan dibukanya pintu rizki
“Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31)

Ketiga, Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya.
Dialah Allah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan Maha mengampuni berbagai kesalahan.” (QS. Asy Syuura: 25)

Keempat, Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan.

Masih banyak keutamaan bagi orang yang bertaubat, tapi bukan hal mudah untuk tetap pada jalan yang lurus setelah sebelumnya banyak tergelincir atau bahkan asik dijalan yang sesat.

Karna tantangan sering sekali datang dari teman teman terkhusus mereka yang memperturutkan hawa nafsunya. Dan mereka ini lah yang secara pasti akan menjadi tantangan bagi mereka yang bertaubat.

Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 27)

Rujukan Cara Bertaubat dan dalilnya

 

 

Dalam bertaubat tidak asal menyesali tanpa mengerti apa yang disesali, ada syarat syarat seperti yang diterangkan ulama, yaitu:

  1. Menyesali perbuatan dosanya
  2. Meninggalkannya
  3. Bertekad untuk tidak melakukannya lagi selama-lamanya
  4. Bila terkait dengan hak orang, dia mengembalikannya kepada orang yang dizalimi.

Terdapat juga hadis tentang adanya sholat sunnah taubat dan disyariatkannya sholat taubat.

Dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila ada orang yang melakukan suatu perbuatan dosa, kemudian dia berwudhu dengan sempurna, lalu dia mendirikan shalat dua rakaat, dan selanjutnya dia beristigfar memohon ampun kepada Allah, maka Allah pasti mengampuninya.” (HR. Ahmad 48, Abu Daud 1523, Turmudzi 408, dan dishahihkan al-Albani)

  1. Berwudhu dengan sempurna (sesuai sunah).
  2. Sholat sunnah taubat dua rakaat, tata caranya sama dengan shalat pada umumnya
  3. Tidak ada bacaan khusus ketika sholat taubat. Anda bisa membaca al-Fatihah kemudian membaca surat apapun yang anda hafal.
  4. Berusaha khusyuk dalam shalatnya, karena teringat dengan dosa yang baru saja dia lakukan.
  5. Beristigfar atau berzikir dan memohon ampun kepada Allah setelah shalat taubat.
  6. Tidak ada bacaan istigfar atau doa taubat khusus untuk sholat taubat. Bacaan istigfarnya sama dengan bacaan istigfar lainnya, misalnya: astaghfirullah wa atuubu ilaih

Inti dari shalat taubat adalah memohon ampun kepada Allah, dengan menyesali perbuatan dosa yang telah dia lakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Allahu a’lam.

Perlu dipahami pada point nomor 6 dan tidak pula dicontohnya adanya jumlah istigfar. Hal ini juga diperkuat dengan dalil dari suart Nuh ayat 10 – 12, untuk memperbanyak istigfar tanpa menetapkan jumlahnya. Penetapan jumlah yang tidak dicontohkan uswatun hasanah kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dapatlah dianggap Bid’ah

Kiat kiat mempertahankan bertaubat nasuha

taubat nasuha

Setelah bertaubat, dipastikan tidak mudah untuk tetap istiqomah, seperti ‘warning’ yang telah diingatkan Allah bahwa banyaknya tantangan;

Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 27)

Agar kita bisa tetap mempertahankan diri pada jalan yang lurus, kita bisa mempraktekan 4 kiat berikut ini:

 

Yakin dan janji dengan ancaman Allah

api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah, “Sudahkah kalian menerima janji dari Allah sehingga tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kalian hanya mengatakan terha­dap Allah apa yang tidak kalian ketahui?” (Al-Baqarah ayat 80)

Apabila telah terjadi suatu perjanjian, pasti Allah tidak akan mengingkari janji-Nya baik itu hukumanya maupun rewardNya

Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya. (Az-Zumar ayat 20)

Tinggalkan komunitas dan fasilitas yang condong pada dosa

Tinggalkan komunitas yang bertentangan dengan syariat, dengan catatan kita belum cukup untuk membentengi diri dari pengaruh negatif. Sementara apabila kita mampu, maka diwajibkan untuk syi’ar atau saling mengingatkan seperti surat (QS: ashr 1-3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

 

Meyadari mati akan datang kapan saja

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng  yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”, Katakanlah:”Semuanya (datang) dari sisi Allah”, maka mengapa orang orang itu (orang munafik) hampir hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.” (QS. An Nisaa’ : 78)

 

Tidak terpengaruh dengan penilaian orang yang berbeda dengan syariat

Penting untuk cuek, tapi cuek dengan penilaian orang yang tidak berdalil atau sesuai dengan syariat. Untuk itu diperlukan bagi mereka yang bertaubat untuk mempelajari Ilmu, sehingga kita bisa menilai mana perkataan / penilaian yang salah atau mana yang sesuai dengan syariat.

Dalam menjalankan agama memang tidak mudah, bahkan kesulitannya pun diibaratkan dengan bara api, seperti yang Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan.

Berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ini memang amat berat, bagai mereka yang memegang bara api.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan datang kepada manusia suatu ikiraman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

 

Arham
Arham
Pemuda Hijrah yang diberikan sedikit ilmu untuk bisnis online dan melepas perilaku sekularisme. Sempat mengelola bisnis export komoditas hasil bumi, saat ini aktif menaungi tim yang menghandle beberapa bisnis salah satunya Digital Consulting Biz.deerham.comyang mengelola brand untuk optimasi media online.