4 Panduan Memilih Pemimpin: Sejarah Sekuler dan Hermeunetika

panduan-memilih-pemimpin

Untuk menentukan fatwa tentu hak ulama, namun ketika ilmu sudah tersampaikan dan saat berpendapat atau beropini disertai dengan dalil yang jelas tentang aturan dan hokum memilih pemimpin menurut Islam – bahkan tidak perlu seorang ulama untuk menjelaskan tafsir berulang ulang – tentu akan berbeda.

Karena itu disini saya akan beropini, tentu dengan rujukan yang tidak saya karang sendiri.

Sebelum membahas lebih kriteria memilih pemimpin serta hukumnya, kita ulas dulu “pengertian pemimpin menurut islam”.

Pengertian pemimpin menurut islam

Kenapa membahas pengertian “pemimpin”?

Sederhananya, karena banyak yang keblinger alias bingung. Mana pemimpin mana pelayan.

Tentu kita ingat jargon “Presiden, Raja, Menteri, atau bahkan Gubernur dan Walikota” adalah pelayan rakyat. Lucunya, yang membuat peraturan kok justru pelayannya?

Bukan Tuannya…

Pemimpin menurut pandangan Islam (sebaik-baiknya pandangan) yakni orang yang tidak hanya menjalankan roda pemerintahan begitu saja namun seorang pemimpin harus mewajibkan kepada rakyatnya untuk melaksanakan apa saja yang terdapat dalam syariat Islam walaupun bukan beragama Islam.

Serta mempengaruhi rakyatnya untuk selalu mengikuti apa yang menjadi arahan dari seorang pemimpin. Oleh sebab itu pemimpin akan memiliki staf khusus agar hukum yang dibuat dapat dipaksakan.

Sehingga dapat juga disederhanakan, Maka definisi pemimpin di sini bermakna seseorang yang memiliki kewengan yang sangat besar dalam menentukan arah dan kebijakan strategis yang berdampak sangat besar bagi kehidupan kaum Muslimin di suatu wilayah tertentu

Sejarah Penafsiran Teks Multitafsir, Sekuler dan Hermeunetika

Multi-tafsir juga (harus) diterapkan pada Al-Maidah. Benarkah?

Umumnya setiap teks dapat dikatakan multitafsir, tapi sayangnya tidak demikian dengan Al-Quran. Khususnya surat Al-Maidah ayat 51 yang menghebohkan sebab pak Ahok.

Isi Surat Al-Maidah ayat 51 seperti ini:

Allah Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

 

Isinya jelas, maknanya pun jelas. Bahkan kalau perlu rujukan tafsir dari Ulama pun maknanya masih sama.

Lalu kenapa, ada yang mengatakan “multitafsir” untuk ayat Al-maidah:51 yang menjadi panduan hukum memilih pemimpin menurut islam?

Tidak lain dan tidak salah lagi…

Sebab pola pikir Sekuler (memisahkan agama dengan urusan dunia) dan terkontaminasi gaya hermeneutika telah sukses menyebar ke kaum santri liberal yang mengusung persamaan hak warganegara dan perluasan tafsir lewat metode Barat salah satunya via jalur hermeneutika.

Akibatnya kriteria pemimpin menurut islam dan dalilnya bisa berubah ubah atau tepatnya dirubah rubah seenaknya

Dari mana Heumenetika ini? Bagaimana sejarahnya?

Untuk lebih mengenal paham sekuler dan hermeneutika kamu bisa mempelajari sejarah barat. Bagaimana ajaran Kristen yang terbaratkan. Salah satu dari “wajah peradaban barat – karya ustad. adian husaini

Secara umum, sejarah mencatat sebab sebab Kristen yang terbaratkan. Atau boleh dibilang menjadi sekuler dan lahirlah gaya penafsiran hermeneutika karena:

kristen punya problem sejarah yang sangat gawat: inkuisisi – lembaga yang dibuat oleh gereja sebagai institusi untuk program kristenisasi dalam bentuk kekerasan oleh pendeta dan biarawan. Pelakunya bukan atheis, komunis, tapi kaum agamis. Terjadi di abad pertengahan. – banyak penyimpangan yang dilakukan pemuka agama

Teks bible, ayat ayatnya saling bertentangan. Tidak mengajarakan moralitas yang baik, dan bertentangan dengan sains

Problem Teologis Kristen, trinitas dan teologisnya amat sulit dipahami bahkan tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Aspek aspek teologis dalam kristen adalah kesepakatan bersama, yang berarti dapat disesuaikan harinya dan ritual atau proses ibadahnya sesuai voting.

Dan akibat problem diatas lahirlah sekularisme yang menghasilkan sistemnya sebagai berikut:

Disenchantment of nature, menghilangkan pesona alam dengan kaitannya dengan Allah

Desacralization of politic, Peran politik tidak boleh sakral atau tidak boleh diatur berdasarkan aturan agama. Sementara dalam memilih pemimpin telah diatur oleh agama.

Deconsecration of value, nilai nilai tidak tetap. Pondasinya adalah akal manusia, jika saat ini benar, maka sebulan kemudian nantinya bisa saja salah. Jika dianggap tidak menguntungkan

Contoh dari “Deconsecration of value” bisa kita lihat dari kasus LGBT.

Seperti yang kita tahu, sebelum Amerika membuat keputusan yang menggemparkan warga dunia. Dulunya mereka MENOLAK KERAS, nah.. jika saat ini mereka sudah memperbolehkan. Bisa jadi, tidak perlu waktu lama kamu yang tinggal disana akan DIWAJIBKAN ber LGBT…hiii

Lanjut ke Panduan memilih pemimpin part 2

Arham
Arham
Bukan ustad, cuma seorang taubaters yang diberikan sedikit ilmu untuk bisnis online dan melepas perilaku sekularisme. Sempat mengelola bisnis export komoditas hasil bumi, saat ini aktif menaungi tim yang menghandle beberapa brand untuk optimasi media online di Biz.deerham.com.